Login for full access

Afiksasi Verba Bahasa Arab dan Bahasa Inggris: Analisis Konstratif Berdasar Korpus Bahasa
Tesis

Afiksasi Verba Bahasa Arab dan Bahasa Inggris: Analisis Konstratif Berdasar Korpus Bahasa

NURUL INSANI RAHMAN

2026
Year
5
Views

Documents Available

Chapter 1-3 (Preview)

Publicly accessible

Full Text (Complete)

Library members only

To access full text, please log in as a library member. If not registered, visit the library to register.

Thesis Information

Author

NURUL INSANI RAHMAN

Student ID

452024817034

Type

Tesis

Year

2026

Faculty

Pascasarjana

Study Program

Magister Pendidikan Bahasa Arab

Advisor 1

Assoc. Prof. Dr. Abdul Hafidz bin Zaid, Lc., M.A.

Keywords

Afiksasi Verba Verba Bahasa Arab dan Inggris Analisis Konstratif Korpus Bahasa Analisis Verba

Abstract

Penelitian ini membahas afiksasi verba dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris melalui analisis berbasis korpus dengan pendekatan kontrastif. Fokus penelitian ditempatkan pada kategori verba karena verba merupakan pusat predikasi dalam kalimat dan memiliki beban morfologis tertinggi, seperti penandaan aspek, kala, pelaku, jumlah, dan valensi. Secara teoretis, Comrie dan Palmer menegaskan bahwa afiksasi paling produktif terjadi pada verba, sehingga analisis pada tingkat kata memberikan gambaran morfologis yang lebih akurat dibandingkan analisis struktur kalimat yang dipengaruhi faktor sintaksis. Oleh karena itu, verba dipilih sebagai unit analisis yang paling relevan dalam kajian morfologi komparatif. Bahasa Arab dan bahasa Inggris dipilih karena keduanya mewakili dua sistem morfologi dengan tipologi yang sangat kontras. Bahasa Arab sebagai bahasa Semitik memiliki sistem non-linear berbasis akar–pola (root-and-pattern), sedangkan bahasa Inggris sebagai bahasa Indo-Eropa menggunakan sistem morfologi linear concatenative. Perbedaan mendasar ini memberikan ruang analitis untuk membandingkan bagaimana afiks bekerja dalam dua sistem pembentukan kata yang berbeda, serta bagaimana perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan kesulitan pembelajar sebagaimana diprediksi oleh Lado dalam teori Constrative Analysis. Selain itu, kedua bahasa ini diajarkan secara luas di Indonesia sehingga memiliki relevansi praktis dalam konteks pendidikan. Penelitian ini menganalisis 200 verba untuk masing-masing bahasa, jumlah yang merujuk pada prinsip stabilitas sampel dalam linguistik korpus sebagaimana dijelaskan Gries dan McEnery & Hardie, yang menyatakan bahwa sampel 150–300 lemma sudah mampu memunculkan pola morfologis yang representatif. Hal ini juga sejalan dengan pandangan Lieber bahwa analisis morfologi membutuhkan cakupan data luas agar variasi afiks teridentifikasi secara akurat. Penelitian membatasi fokus pada prefiks dan sufiks karena kedua jenis afiks ini merupakan afiks permukaan yang secara segmental dapat diidentifikasi dengan jelas dalam data korpus. Pada bahasa Arab, prefiks (ya-, ta-, na-) dan sufiks (-tu, -na, -ū) adalah unsur afiksatif yang paling produktif dan muncul eksplisit dalam bentuk perfective dan imperfective. Sementara itu, perubahan internal vokal dan pola prosodik tidak dianalisis karena tidak tampak secara linear dalam permukaan kata. Pada bahasa Inggris, prefiks derivatif (re-, un-, de-) dan sufiks derivatif (-ize, -ify) dipilih karena menjadi afiks paling produktif dalam pembentukan verba modern. Dengan demikian, fokus pada prefiks dan sufiks memastikan konsistensi komparatif antara dua bahasa yang berbeda tipologinya. Data primer diperoleh dari ArabiCorpus dan COCA, dengan daftar verba awal diekstraksi melalui fitur Wordlist–Verb pada Sketch Engine. Analisis dilakukan melalui tahapan: (1) identifikasi morfem permukaan, (2) segmentasi afiks–dasar, (3) klasifikasi afiks berdasarkan fungsi derivatif atau inflektif, (4) penghitungan frekuensi untuk menilai produktivitas, dan (5) analisis kontrastif untuk melihat persamaan dan perbedaan struktur afiksasi Arab–Inggris dalam konteks tipologi morfologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki sistem afiksasi yang kompleks karena interaksi antara prefiks, sufiks, dan pola akar–pola yang bersifat non-linear. Prefiks ya-, ta-, dan na- serta sufiks -tu, -na, dan -ū terbukti dominan dalam korpus. Sementara itu, bahasa Inggris menunjukkan pola yang lebih linear melalui produktivitas afiks derivatif seperti re-, un-, de-, -ize, dan -ify, dengan tambahan afiks inflektif seperti -ed, -ing, dan -s dalam konteks komparatif. Analisis kontrastif mengungkap perbedaan signifikan dari sisi mekanisme morfologis, distribusi afiks, dan tingkat produktivitas, sekaligus mempertegas perbedaan tipologis kedua bahasa. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis terhadap pengembangan morfologi komparatif dan linguistik korpus, serta secara praktis memberikan dasar bagi pengajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Temuan empiris ini dapat membantu mengantisipasi kesalahan morfologis pembelajar akibat perbedaan sistem afiksasi, sehingga strategi pembelajaran dapat dirancang lebih efektif dan berbasis bukti autentik.

Global Search

Search books, e-books, thesis, news...

Tekan Esc atau klik di luar untuk menutup

HOME E-Book E-Thesis

Hubungi Kami

WhatsApp

Chat langsung