KURIKULUM INKLUSI BERBASIS METODE WAFA DALAM PEMBELAJARAN TAHFIDZ QUR'AN DI PESANTREN USWATUN HASANAH LUBUKLINGGAU
ISTIQOMAH
Documents Available
Chapter 1-3 (Preview)
Publicly accessible
Full Text (Complete)
Library members only
To access full text, please log in as a library member. If not registered, visit the library to register.
Thesis Information
Author
ISTIQOMAH
Student ID
432022118075
Type
Skripsi
Year
2025
Faculty
Fakultas Tarbiyah
Study Program
Pendidikan Agama Islam
Advisor 1
Assoc. Prof. Dr. Abu Darda, S.Ag.,M.Ag.
Keywords
Abstract
Kurikulum inklusi adalah kurikulum yang dirancang untuk memberikan layanan pendidikan yang setara kepada seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, melalui penyesuaian tujuan, materi, metode, dan evaluasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan individu. Metode WAFA adalah metode pembelajaran Al-Qur’an yang menggunakan pendekatan multisensori (visual, auditori, dan kinestetik) yang digunakan Ponpes Uswatun Hasanah Lubuklinggau dalam pembelajaran tahfidz Qur’an yang berlangsung berhasil selama 4-5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya mengembangkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang mampu mengakomodasi beragam kemampuan santri, khususnya peserta didik inklusif di lingkungan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan informan kepala sekolah, wali kelas, serta guru tahfidz (metode WAFA) di SD Terpadu Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Lubuklinggau. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan metode, sedangkan analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode WAFA meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an bagi peserta didik inklusif melalui pendekatan multisensori yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, seperti penggunaan video, lagu/irama, serta kombinasi visual dan audio. Metode ini juga meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik, serta memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena didukung kurikulum yang fleksibel, guru yang inovatif, dan lingkungan pesantren yang kondusif. Berdasarkan kesimpulan peneliti mengajukan beberapa saran: Uswatun Hasanah dianjurkan untuk memberi pelatihan metode wafa dan kurikulum inklusi terhadap semua guru terkhusus walikelas peserta didik inklusif atau pendamping peserta didik inklusif. Penelitian berikutnya disarankan untuk menelaah motivasi belajar atau faktor nativisme pada peserta didik inklusif dengan tipe Down Syndrome.