ANALISIS INSTRUMEN MONETER SYARIAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERIODE 2020-2024
FITRI NOVITA WULANSARI
Documents Available
Chapter 1-3 (Preview)
Publicly accessible
Full Text (Complete)
Library members only
To access full text, please log in as a library member. If not registered, visit the library to register.
Thesis Information
Author
FITRI NOVITA WULANSARI
Student ID
432022418039
Type
Skripsi
Year
2026
Faculty
Fakultas Ekonomi & Manajemen
Study Program
Ekonomi Islam
Advisor 1
Nusa Dewa Harsoyo, S.H.I., M.A.
Keywords
Abstract
Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator utama dalam stabilitas dan kemajuan suatu negara. Indonesia sebagai negara dengan sistem perbankan ganda menegaskan bahwa keberhasilan stabilitas sistem keuangan dan perbankan tidak hanya bertumpu pada instrument konvensional, tetapi juga membutuhkan kontribusi instrument syariah. Instrument moneter syariah berperan sebagai alat analisis untuk menilai perkembangan dan kontribusinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh instrument moneter syariah yaitu; Operasi Pasar Tebuka Syariah, Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah dan Pasar Uang Antarbank Syariah terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang diukur melalui Produk Domestik Bruto menggunakan data runtun waktu sekunder dengan periode 2020-2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan VECM dan menggunakan eviews 12 sebagai alat analisis pengelolaan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam jangka pendek, ketiga instrument moneter syariah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi,dengan nilai t-statistik pada seluruh lag lebih kecil dari nilai t-tabel yaitu 2,00324. Namun dalam jangka panjang, OPTS memiliki pengaruh yang signifikan negative, FASBIS berpengaruh signifikan positive sedangkan PUAS tidak berpengaruh secara signifikan terhadap PDB. Berdasarkan analisis Variance Decomposition, FASBIS merupakan instrument yang paling berkontribusi terhadap variasi terhadap PDB yaitu sebesar (11,16%), diikuti PUAS (0,57%) dan OPTS (0,20%) dengan kontribusi yang lebih kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa instrumen moneter syariah memiliki efek transmisi jangka pendek yang terbatas namun tetap relevan dalam jangka panjang, sehingga menegaskan pentingnya penguatan kedalaman pasar dan mekanisme pengelolaan likuiditas; oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperpanjang periode observasi serta memasukkan variabel kontrol makroekonomi tambahan guna meningkatkan ketahanan empiris hasil penelitian.