Konsep Bayangan dalam Al-Qur`an dan Relevansinya Terhadap Ilmu Optik Modern: A Tafsīr al-'Ilmī Perspektif
MUHAMMAD SABILILLAH
Documents Available
Full Text (Complete)
Library members only
To access full text, please log in as a library member. If not registered, visit the library to register.
Thesis Information
Author
MUHAMMAD SABILILLAH
Student ID
432022231173
Type
Skripsi
Year
2025
Faculty
Fakultas Ushuluddin
Study Program
Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Advisor 1
Dr. Moh. Isom Mudin, S.Th.I., M.Ud.
Keywords
Abstract
Bayangan adalah fenomena optik yang terjadi ketika cahaya terhalang oleh suatu benda. Teori yang menjelaskannya adalah teori optika geometri. Fenomena ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah Al-Furqān ayat 45–46, tentang bagaimana Allah menciptakan dan mengatur bayangan serta menjadikan matahari sebagai petunjuknya. Karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji konsep bayangan dalam Al-Qur’an dan relevansinya dengan teori optika modern. Penelitian ini bertujuan memahami konsep bayangan (ẓill) dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsīr ‘ilmī dan didukung dengan pendekatan semantik, khususnya dalam menelaah makna leksikal dan kontekstual kata ẓill dalam ayat tersebut. Penelitian ini juga menjelaskan relevansinya dengan prinsip-prinsip optika modern seperti perambatan cahaya, refleksi, serta mekanisme pembentukan bayangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan fenomena bayangan sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan metode analitis digunakan untuk mengkaji keterkaitan antara tafsir ayat tersebut dan teori optika geometri. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan sains. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep bayangan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah al-Furqān ayat 45–46, tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga mengandung dimensi semantik dan teologis yang mendalam. Secara semantik, penggunaan diksi madda, ẓill, dalīlan, dan qabḍnāhu merepresentasikan bayangan sebagai fenomena yang bergerak secara bertahap, teratur, dan memiliki relasi dengan matahari sebagai penunjuknya. Dari perspektif ilmiah, fenomena ini selaras dengan prinsip optika geometri yang menjelaskan perubahan panjang dan arah bayangan akibat posisi sumber cahaya. Kesesuaian tersebut menunjukkan bahwa bayangan dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai tanda keteraturan kosmik, penanda waktu, serta sarana refleksi terhadap hikmah dan kekuasaan Ilahi. Penelitian ini masih jauh dari kata sempurna dalam pengkajian konsep bayangan yang ditinjau dari perspektif Al-Qur’an, sebab upaya ini tidaklah mudah. Oleh karena itu, peneliti berharap agar penelitian selanjutnya dapat mengembangkannya secara lebih mendalam dan ilmiah, sehingga dapat menjadi langkah nyata dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan dan memperkuat integrasi antara wahyu dan sains modern.