Antara Wahyu dan Kondensasi: Wawasan Linguistik dan Ilmiah tentang Awan Nimbostratus dalam Al-Qur’an
RANDI RIZANANTA
Documents Available
Chapter 1-3 (Preview)
Publicly accessible
Full Text (Complete)
Library members only
To access full text, please log in as a library member. If not registered, visit the library to register.
Thesis Information
Author
RANDI RIZANANTA
Student ID
U20260103NRGN
Type
Skripsi
Year
2026
Faculty
Fakultas Ushuluddin
Study Program
Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Advisor 1
Prof. Dr. Sujiat Zubaidi, M.Ag.
Advisor 2
-
Keywords
Abstract
Awan merupakan salah satu komponen atmosfer yang memainkan peran penting dalam hidrologi dan keseimbangan ekosistem. Selain itu, keindahannya yang singkat dan variasinya yang tak terhitung telah menjadi bahan perenungan para ilmuwan. Klasifikasi dan modifikasi awan pertama kali dilakukan pada abad ke-18, yang membaginya menjadi awan Stratus, Cumulus, Cirrus, dan Nimbus. Salah satu jenis awan yang merujuk pada awan pembawa hujan adalah awan Nimbus-Stratus. Fenomena awan yang mengandung air hujan ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, Surah an-Naba ayat 14 dan Surah Ar-Ra’d ayat 12. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan mengenai fenomena awan hujan dari perspektif Al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap fenomena awan hujan atau awan Nimbostratus dari perspektif Al-Qur’an melalui al-Iʿjāz Lughawī dan al-I‘jāz al-‘Ilmī, serta hubungan antara keduanya. Telah terbukti bahwa terdapat indikasi yang jelas dalam teks yang mengarah pada kebenaran meteorologis mengenai fenomena awan Nimbostratus. Peneliti menggunakan metode deskriptif dalam studi ini untuk menggambarkan penelitian, kemudian menganalisis awan Nimbostratus serta korelasi antara al-I‘jāz Lughawī dan al-I‘jāz al-‘Ilmī melalui metode analitis. Penelitian ini merupakan kajian pustaka dengan pendekatan linguistik ilmiah. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat keselarasan yang kuat antara deskripsi linguistik Al-Qur’an dan karakteristik ilmiah awan Nimbostratus sebagai sumber utama hujan lebat dan kontinu. Istilah-istilah Qur’ani seperti al-mu‘sirat, tsajjaja, dan as-sahaba al-tsiqal tidak hanya menunjukkan ketepatan retoris dan kekayaan makna, tetapi juga menggambarkan kondisi fisik awan hujan yang gelap, tebal, dan sarat air sebagaimana dijelaskan dalam meteorologi modern. Kesesuaian antara penjelasan wahyu dan temuan ilmiah ini menegaskan bahwa representasi Al-Qur’an mengenai proses presipitasi tidak bertentangan dengan observasi atmosfer kontemporer, sehingga menunjukkan adanya titik temu yang harmonis antara kemukjizatan bahasa Al-Qur’an dan realitas ilmiah mengenai fenomena awan hujan. Penelitian ini masih jauh dari sempurna dalam mengkaji fenomena awan pembawa hujan atau awan Nimbostratus dari perspektif Al-Qur’an, karena usaha ini bukanlah hal yang mudah. Peneliti berharap para peneliti di masa mendatang dapat menyempurnakannya, menjadikannya kajian yang lebih matang dan ilmiah, serta agar penelitian ini dapat menjadi salah satu langkah menuju Islamisasi ilmu pengetahuan.