Analisis Manajemen Konflik pada Kisah Nabi Ibrahim dengan Ayah dan Kaumnya dalam Al – Quran: Kajian Tematik
SAVIER NAYAKA GUNAWARDANA
Documents Available
Chapter 1-3 (Preview)
Publicly accessible
Full Text (Complete)
Library members only
To access full text, please log in as a library member. If not registered, visit the library to register.
Thesis Information
Author
SAVIER NAYAKA GUNAWARDANA
Student ID
432022231151
Type
Skripsi
Year
2025
Faculty
Fakultas Ushuluddin
Study Program
Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Advisor 1
Deki Ridho Adi Anggara, S. Ud., M. Ag
Advisor 2
Niken Sylvia Puspitasari, S.Pd., M. Si
Keywords
Abstract
Konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern yang dipenuhi perbedaan pandangan, kepentingan, dan nilai. Jika tidak dikelola dengan baik, konflik dapat berkembang menjadi sesuatu yang merusak. Karena itu, penting meneladani cara para nabi dalam menghadapi konflik, termasuk kisah Nabi Ibrahim dengan ayah dan kaumnya. Kisah tersebut menunjukkan keteguhan iman serta strategi penyelesaian konflik ketika dakwah beliau ditolak. Penelitian ini bertujuan mengungkap manajemen konflik dalam kisah tersebut berdasarkan Al-Qur’an serta teori manajemen konflik barat milik Thomas W. Kenneth dan Ralph H. Kilmann sebagai pendukung untuk menjelaskan relevansinya dengan konflik masa kini, agar konflik kontemporer tidak berakhir secara negatif. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan (Library Research) dengan mengumpulkan data-data dan informasi informasi dari buku-buku maupun jurnal, kemudian menggunakan metode deskriptif dan analitis. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir maudhu‘i dengan menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan judul penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen konflik Nabi Ibrahim dengan ayah dan kaumnya dilakukan melalui sikap sopan, lemah lembut, serta penggunaan argumen logis. Sikap menjauh dari ayahnya mencerminkan konsep accommodation, sedangkan perdebatan logis dengan kaumnya mencerminkan competing. Keteladanan ini relevan untuk menghadapi konflik modern, baik dalam keluarga maupun masyarakat yang beragam, karena komunikasi yang lembut, argumentatif, serta praktik tabayyun dapat meredakan ketegangan dan mencegah misinformasi di era post-truth. Peneliti menyadari adanya kekurangan penelitian ini, terutama dalam cakupan ayat dan aspek yang diteliti. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas analisis secara tematik dan mencakup aspek lain agar pemahaman menjadi lebih menyeluruh.